Kalau di beberapa artikel kemarin saya membahas cukup banyak mengenai profesi Sales/Marketing” serta kemampuan wajib yang harus di miliki yang berkaitan dengan profesi tersebut misalnya: kemampuan berkomunikasi yang baik, negosiasi dan persuasif. Sekarang saya akan membahas mengenai kemampuan lain yang tidak kalah wajibnya harus di kuasai, bukan hanya oleh seorang karyawan/pekerja, akan tetapi menurut saya kemampuan ini harus di kuasai oleh setiap orang, apa itu? Apa lagi kalau bukan kemampuan menyelesaikan masalah atau istilah kerenya Problem Solving Strategy atau dalam dunia psikologi biasanya di sebut dengan istilah Coping Behavior.
Masalah masalah dan masalah, ya seakan ini menjadi
kata yang amat menyeramkan bagi kita semua, setiap hari dan terus-menerus akan
datang dengan silih berganti seakan tak mau pergi dari kehidupan kita, malahan
yang terjadi masalah senantiasa muncul dengan model dan bentuk yang
berbeda-beda, udah kaya model motor aja. Ya tidak mungkin juga sih kalau di
keseharian kita tanpa berhadapan dengan yang namanya masalah karena kehidupan
dan masalah adalah ibarat kita beli hp dan nomornya, gak akan bisa di pisah.
Kalau mau g ada masalah ya mati aja beres. Haha bercanda boss.
Dan lebih bahayanya ketika kita di hadapkan pada suatu masalah tertentu terus kemudian kita tidak mampu mengatasinya itu malah akan menjadi beban di kemudian hari, itu semua akan menumpuk dan membekas di diri kita yang akhirnya timbul masalah lain seperti gejala stress, depresi bahkan bisa juga mengalami gangguan kesehatan karena biasanya kalau kita sedang kena masalah, nafsu makan menurun, malas dll. Ada juga banyak kasus yang bisa kita lihat di media social atau televisi banyak orang-orang merasa tidak mampu mengatasi masalah kemudian mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri suatu tindakan yang bodoh memang, celakanya banyak dari generasi muda yaitu para remaja juga tidak sedikit yang akhirnya di temukan tewas dengan cara seperti ini. Banyak di jumpai juga para remaja labil itu berusaha menyelesaikan masalahnya tetapi dengan cara yang salah misalnya dengan alasan mencari pelarian dengan mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba. Padahal masalahnya bisa di bilang sepele cuman karena masalah percintaan dan galau karena gak bisa move on, miris bukan?.
Ada cerita yang Saya pikir nyambung dengan topic ini, Saya punya temen perempuan awalnya saya tidak kenal sama sekali dengan dia, baru pas kita kerja bareng di Event Organizer (EO) selama kurang lebih satu bulan mulai disitu saya kenal sedikit demi sedikit, Kebetulan kita jadi satu Team kepanitian di acara pameran buku di kota P*** saya di divisi acara dia di bagian sekretaris. Di awal saya kenal saya melihatnya sebagai sosok cewek yang ceria, lucu, mandiri dan cenderung rame, oya kalau menurut saya dia juga termasuk merupakan sosok muslimah yang taat, dia selau memakai bawahan rok lengkap dengan kerudung yang lumayan besar, dia juga sangat menjaga agar tidak bersentuhan dengan lawan jenis, kadang kami temen panitia cowok menggodanya dengan mengajak bersalaman. Dan tentu saja dia menolaknya tetapi dengan gaya yang lucu juga. Saya baru tau kalau dia itu ternyata seorang yatim piatu dan jadi tulang punggung keluarga, karena kalau tidak salah dia cuman tinggal bareng adiknya. Selama mengurus event itu dia juga yang mengurusi catering makanan kami ya mungkin untuk tambahan penghasilanya. Jadi bisa di bayangkan betapa berat perjuangan hidup yang harus dia lalui di usia yang masih cukup muda. Tidak punya orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga.
Cerita berlanjut, setelah event itu berakhir kita
juga akhirnya loos contact paling saya tau kabarnya pas kebetulan liat
postingan-postingan yang dia uploud di FB dia juga tidak begitu aktif di BBM sama
seperti saya. Setahun yang lalu kalau tidak salah saya mendengar kabar bahwa
dia sudah menikah dan juga sudah di karuniai anak, baby kecil yang amat lucu. Saya
berfikir cobaan hidupnya telah berakhir, masalah-masalah yang sebelumnya selalu
dia hadapi juga sudah selesai, dia hidup bahagia dengan keluarga kecilnya
bersama suami dan anaknya.
Kaget bukan main saya ketika beberapa bulan yang
lalu saya mendengar kabar bahwa suaminya tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. Saya
tidak bisa membayangkan bagaimana dia nanti dapat melalui cobaan/masalah ini
secara dia juga sudah mempunyai baby yang masih kecil, tanggung jawab yang amat
besar yang harus ia emban seorang diri. Sudah yatim piatu lalu di tinggal mati
suaminya di usia pernikahan yang masih amat pendek.
Hari berganti hari bulan berganti bulan saya
berfikir bahwa dia kali ini akan mampu bangkit lagi dari cobaan itu karena ya
tadi, dia merupakan sosok cewek yang ceria, lucu, mandiri dan dia juga termasuk
seorang muslimah yang taat. Sampai akhir-akhir ini saya melihat ada yang aneh
di FB-nya, pada awalnya Ia beberapa kali membuat status tentang masalah dan cobaan
yang sedang ia hadapi itu, ya saya fikir wajar karena dia butuh media untuk
curhat dan mencurahkan kegelisahanya. Banyak temen-temen termasuk saya
meresponya dengan komentar menyuruh untuk tetap sabar dan mensuportnya agar
kembali bangkit. Nah sampai akhirnya lama-lama ada yang tidak beres, di
beberapa di status yang dia post dia semakin mengeluh dan puncaknya dia
sampai-sampai menyalahkan Tuhan atas apa yang dia hadapi. Ia juga pernah
membalas komentar dengan mengatakan dia sudah bukan orang baik lagi, karena
menjadi orang baik itu tiadak ada gunanya. Beberapa postinganya sampai ada yang
tidak berani saya katakan apalagi saya tulis di sini. Karena saking ngerinya.
Saya menduga Ia sedang mengalami stress berat karena
cobaan itu bahkan bisa di katagorikan masuk di ranah depresi, sehingga dia
sudah tidak bisa mengontrol dirinya dan tidak bisa lagi berfikir jernih dan
akhirnya responya yang muncul dalam menyikapi masalah itu menjadi salah, dan
jika dibiarkan terus seperti ini keadaanya bisa jadi malah semakin
menghawatirkan. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga ia segera di beri
kesadaran dan kekuatan untuk bisa bangkit lagi menata hidupnya dan yang paling
penting yaitu menyiapkan masa depan yang baik bagi anaknya. “Semangat ya Mbak,,,,”
kamu pasti bisa.
Cerita di atas adalah kisah nyata. Saya tidak ada maksud
apapun untuk menulisnya kecuali sebagai inspirasi kita bersama agar kita bisa
belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat dalam menghadapi setiap
masalah dan cobaan. Karena dia saja yang awalnya saya nilai sebagai sosok perempuan
muslimah yang mandiri dan taat di tambah lagi pembawaanya yang lucu dan rame toh akhirnya tumbang juga dengan cobaan dan
masalah itu. Saya jadi berfikir apalagi kalau masalah itu di hadapi oleh
seseorang yang secara ketaatan agamanya, pengalaman serta kemampuan akademiknya di bawah temen saya itu
pasti akan lebih mengerikan lagi dampaknya.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapi
“masalah” yang datang, atau paling tidak meminimalisir dampak yang di timbulkan
terhadap diri kita pribadi, ya tidak ada cara lain selain dengan belajar dan
belajar tentang bagaimana cara meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah
termasuk juga yang paling penting adalah kita harus melatih respon/sikap
pertama yang muncul sesaat ketika masalah itu datang, menjadi benar dahulu. Ketika
kita sudah meresponya dengan benar bisa di bilang 50% masalah kita sudah
tertangani.
Kebetulan saya punya bahan teori yang cukup lengkap
mengenai topik ini karena memang tugas akhir atau skripsi saya, salah satu
variabelnya membahas tentang hal ini. Tapi karena artikel ini sudah terlalu panjang, mengenai cara-cara atau strategi seperti apa yang bisa di pakai untuk menyelesaikan masalah dengan baik secara lebih detail akan saya post selanjutnya.
untuk artikel selanjutnya akan lebih saya tekankan untuk bagaimana caranya mengatur respon pertama yang positif dan juga beberapa strategi penyelesaian masalah diantaranya;
1. Aktif problem solving strategy.
2. Pasif problem solving strategy.
sekian semoga bermanfaat.
Bagikan
Masalah dan Masalah Datang Lagi, Lalu Bagaimana?
4/
5
Oleh
Karirmahasiswa